Sedimentologi

Bentangalam Denudasional

Pembentukan bentang alam denudasional memiliki kaitan erat dengan proses pelapukan dengan beragam skala dan agen yang berperan

Pengertian

Denudasi berasal dari kata dasar nude yang berarti telanjang, sehingga denudasi berarti proses penelanjangan permukaan bumi. Bentuk lahan asal denudasional dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk lahan yang terjadi akibat proses-proses pelapukan, erosi, gerak masa batuan (mass wating) dan proses pengendapan yang terjadi karena agradasi atau. Proses degradasi cenderung menyebabkan penurunan permukaan bumi, sedangkan agradasi menyebabkan kenaikan permukaan bumi.

Ciri-ciri dari bentuk lahan yang asal terjadi secara denudasioanal, yaitu:

  1. Relief sangat jelas: lembah, lereng, pola aliran sungai.
  2. Tidak ada gejala struktural, batuan massif, deep/strike tertutup.
  3. Dapat dibedakan dengan jelas terhadap bentuk lain.
  4. Relief lokal, pola aliran dan kerapatan aliran menjadi dasar utama untuk merinci satuan bentuk lahan.
  5. Litologi menjadi dasar pembeda kedua untuk merinci satuan bentuk lahan. Litologi terasosiasi dengan bukit, kerapatan aliran,dan tipe proses.
Gunung columnar joint ini dahulu merupakan bagian korok gunungapi. Proses denudasi yang berlangsung intens memungkinkan tereksposnya bagian korok yang beresistensi tinggi (www.nps.gov)

Faktor-faktor Pengontrol Bentang Alam Denudasional

Denudasi meliputi proses pelapukan, erosi, gerak masa batuan (mass movement) dan proses pengendapan/sedimentasi.

  1. Pelapukan

Pelapukan (weathering) dari perkataan weather dalam bahasa Inggris yang berarti cuaca, sehingga pelapukan batuan adalah proses yang berhubungan dengan perubahan sifat (fisis dan kimia) batuan di permukaan bumi oleh pengaruh cuaca. Secara umum, pelapukan diartikan sebagai proses hancurnya massa batuan oleh tenaga eksogen, pelapukan adalah proses penyesuaian kimia, mineral dan sifat fisik batuan terhadap kondisi lingkungan di sekitarnya.

batugamping non klastik yang mengalami pelapukan kimia oleh air. Permukaan batuan yang berlubang dan beralur merupakan bukti jalur air yang terabsorpsi dan melarutkan mineral-mineral di dalam batuan tersebut (dok. pribadi)

Akibat dari proses ini pada batuan terjadi perubahan warna, misalnya kuning-coklat pada bagian luar dari suatu bongkah batuan. Meskipun proses pelapukan ini berlangsung lambat, karena telah berjalandalam jangka waktu yang sangat lama maka di beberapa tempat telah terjadi pelapukan sangat tebal. Ada juga daerah-daerah yang hasil pelapukannya sangat tipis, bahkan tidak tampak sama sekali, hal ini terjadi sebagai akibat dari pemindahan hasil pelapukan pada tempat yang bersangkutan ke tempat lain. Tanah yang kita kenal ini adalah merupakan hasil pelapukan batuan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pelapukan adalah:

  1. Jenis batuan (kandungan mineral, retakan, bidang pelapisan, patahan dan retakan).

Batuan yang resisten lebih lambat terkena proses eksternal sehingga tidak mudah lapuk, sedangkan batuan yang tidak resisten sebaliknya. Contoh :

  • Limestone, resisten pada iklim kering tetapi tidak resisten pada iklim basah
  • Granit, resisten pada iklim basah tetapi tidak resisten pada iklim kering
Singkapan granit yang mengalami pelapukan hingga mengalami perubahan warna dan menjadi rapuh (upload.wikimedia.org)
  1. Iklim, terutama tenperatur dan curah hujan sangat mempengaruhi pelapukan. Contoh:
  • Iklim kering, jenis pelapukannya fisis
  • Iklim basah, jenis pelapukannya kimia
  • Iklim dingin, jenis pelapukannya mekanik.
Menara karst di daerah Kabupaten Bandung Barat. Keindahan morfologi daerah karst ini mengundang banyak wisatawan dan sering dijadikan objek fotografi pemandangan (dok. pribadi)
  1. Vegetasi, atau tumbuh-tumbuhan mempunyai peran yang cukup besar terhadap proses pelapukan batuan. Hal ini dapat terjadi karena:
  • Secara mekanis akar tumbuh-tumbuhan itu menembus batuan, bertambah panjang dan membesar menyebabkan batuan pecah.
  • Secara kimiawi tumbuh-tumbuhan melalui akarnya mengeluarkan zat-zat kimia yang dapat mempercepat proses pelapukan batuan. Akar, batang, daun yang membusuk dapat pula membantu proses pelapukan, karena pada bagian tumbuhan yang membusuk akan mengeluarkan zat kimia yang mungkin dapat membantu menguraikan susunan kimia pada batuan. Oleh karena itu, jenis dan jumlah tumbuhan yang ada di suatu daerah sangat besar pengaruhnya terhadap pelapukan. Sebenarnya antara tumbuh-tumbuhan dan proses pelapukan terdapat hubungan yang timbal balik.
Singkapan lipatan batuan di daerah Oe’poto, Timor Tengah Utara. Pada ujung akar tanaman, bagian tudung akar, terdapat sejenis cairan yang mampu untuk melunakkan batuan, sehingga akar leluasa untuk berkembang. Mekanisme ini yang menyebabkan tanaman mampu tumbuh pada tubuh batuan yang minim tanah sekalipun (dok. pribadi)
  1. Topografi

Topografi yang kemiringannya besar dan menghadap arah datangnya sinar matahari atau arah hujan, maka akan mempercepat proses pelapukan.

Macam-Macam Bentuk Lahan Asal Denudasional

  1. Pegunungan Denudasional

Karakteristik umum unit mempunyai topografi bergunung dengan lereng sangat curam (55>140%), perbedaan tinggi antara tempat terendah dan tertinggi (relief) > 500 m.Mempunyai lembah yang dalam, berdinding terjal berbentuk V karena proses yang dominan adalah proses pendalaman lembah (valley deepening).

  1. Perbukitan Denudasional

Mempunyai topografi berbukit dan bergelombang dengan lereng berkisar antara 15 > 55%, perbedaan tinggi (relief lokal) antara 50 -> 500 m. Terkikis sedang hingga kecil tergantung pada kondisi litologi, iklim, vegetasi penutup daik alami maupun tata guna lahan. Salah satu contoh adalah pulau Berhala, hamper 72,54 persen pulau tersebut merupakan perbukitan dengan luas 38,19 ha. Perbukitan yang berada di pulau tersebut adalah perbukitan denudasional terkikis sedang yang disebabkan oleh gelombang air laut serta erosi sehingga terbentuk lereng-lereng yang sangat curam.

Pemandangan daerah perbukitan di Miomafo Timur, Timor Tengah Utara. Seluruh area perbukitan telah mengalami proses denudasional lanjut yang ditandai dengan alur-alur erosi dan fenomena mass movement (dok. pribadi)
  1. Dataran Nyaris (Peneplain)

Akibat proses denudasional yang bekerja pada pegunungan secara terus menerus, maka permukaan lahan pada daerah tersebut menurun ketinggiannya dan membentuk permukaan yang hamper datar yang disebut dataran nyaris (peneplain). Dataran nyaris dikontrol oleh batuan penyusunan yang mempunyai struktur berlapis (layer). Apabila batuan penyusun tersebut masih dan mempunyai permukaan yang datar akibat erosi, maka disebut permukaan planasi.

  1. Perbukitan Sisa Terpisah (inselberg)

Apabila bagian depan (dinding) pegunungan/perbukitan mundur akibat proses denudasi dan lereng kaki bertambah lebar secara terus menerus akan meninggalkan bentuk sisa dengan lereng dinding yang curam. Bukit sisah terpisah atau inselberg tersebut berbatu tanpa penutup lahan (barerock) dan banyak singkapan batuan (outcrop). Kenampakan ini dapat terjadi pada pegunungan/perbukitan terpisah maupun pada sekelompok pegunungan/perbukitan, dan mempunyai bentuk membulat. Apabila bentuknya relatif memanjang dengan dinding curam disebut monadnock.

Salah satu contoh morfologi inselberg yang ditemukan di kawasan benua Australia (www.ausleisure.com.au)
  1. Kerucut Talus (talus cones) atau kipas koluvial (coluvial fan)

Mempunyai topografi berbentuk kerucut/kipas dengan lereng curam (350). Secara individu fragmen batuan bervariasi dari ukuran pasir hingga blok, tergantung pada besarnya cliff dan batuan yang hancur. Fragmen berukuran kecil terendapkan pada bagian atas kerucut (apex) sedangkan fragmen yang kasar meluncur ke bawah dan terendapkan di bagian bawah kerucut talus.

Alluvial fan atau kerucut talus yang dapat ditemukan pada kaki lereng perbukitan atau pegunungan yang mengalami proses erosi lanjut (media.nationalgeographic.org)
  1. Lereng Kaki (foot slope)

Mempunyai daerah memanjang dan relatif sermpit terletak di suatu pegunungan/perbukitan dengan topografi landai hingga sedikit terkikis. Lereng kaki terjadi pada kaki pegunungan dan lembah atau dasar cekungan (basin). Permukaan lereng kaki langsung berada pada batuan induk (bed rock). Dipermukaan lereng kaki terdapat fragmen batuan hasil pelapukan daerah di atasnya yang diangkut oleh tenaga air ke daerah yang lebih rendah.

Lereng kaki pegunungan yang berada di daerah Wini, Timor Tengah Utara. Area lereng gunung umumnya terbentuk akibat proses pelapukan dan erosi oleh beberapa agen secara bersamaan (anonimus)

7. Lahan Rusak (bad land)

Merupakan daerah yang mempunyai topografi dengan lereng curam hingga sangat curam dan terkikis sangat kuat sehingga mempunyai bentuk lembah-lembah yang dalam dan berdinding curam serta berigir tajam (knife-like) dan membulat. Proses erosi parit (gully erosion) sangat aktif sehingga banyak singkapan batuan muncul ke permukaan (rock outcrops).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close