Bencana GeologiTektonika

Erupsi Anak Krakatau 2018 Sebetulnya Dapat Membentuk Tsunami Raksasa Setinggi 100 Meter

Posisi gunung Anak Krakatau dan geliat pertumbuhannya dalam beberapa tahun belakangan ini menyimpan potensi bencana yang maha besar

Letusan mematikan Gunung Anak Krakatau di tahun 2018 memicu gelombang paling tidak setinggi 100m yang sebenarnya dapat menimbulkan kehancuran besar. Namun gelombang tersebut malah bergerak ke arah lain, seperti yang dimuat dalam geologypage.com (28/11/19).

Sebanyak 400 jiwa menjadi korban pada Desember 2018 lalu ketika Anak Krakatau erupsi dan sebagian tubuhnya runtuh ke dalam laut, kejadian itu menciptakan gelombang yang bergerak ke arah barat menuju pulau Sumatera. Gelombang ini mencapai ketinggian 5m dan 13m ketika sampai ke daerah pesisir satu jam kemudian.

Wujud tubuh Gunung Anak Krakatau setelah mengalami erupsi di tahun 2018. Sebagian tubuhnya runtuh ke dalam laut dan menimbulkan tsunami (phys.org)

Namun, analisis terbaru dari para peneliti dari Brunel University London dan Universitas Tokyo menunjukkan bahwa bencana tersebut sebenarnya dapat memicu gelombang tsunami yang lebih mematikan, dengan tinggi gelombang mulai dari 100m dan 150m, yang bergerak menuju wilayah pesisir terdekat.

Meskipun tinggi gelombang dengan cepat akan berkurang, akibat pengaruh kombinasi antara gravitasi yang menarik masa air ke bawah dan gesekan antara gelombang air dan dasar laut, tapi ketinggiannya masih dapat lebih dari 80m ketika gelombang tersebut menghantam pulau tidak berpenghuni yang jaraknya hanya beberapa kilometer saja dari Anak Krakatau.

“Ketika material gunung api runtuh ke dalam laut terjadilah perpindahan atau pergerakan permukaan air,” jelas Dr. Mohammad Heidarzadeh, seorang asisten profesor teknik sipil dari Brunei yang memimpin penelitian ini. “Kejadian ini seperti melemparkan sebuah batu ke dalam bak air, jatuhnya batu akan menciptakan gelombang dan perpindahan air.”

“dalam kasus Anak Krakatau, ketinggian air yang bergerak akibat runtuhnya material gunung api mencapai 100m.”

Diagram yang menunjukkan potensi ketinggian tsunami yang dapat terbentuk akibat runtuhnya tubuh gunung Anak Krakatau. Ketinggian tsunami yang dapat terpicu mencapai 150 meter dan tentunya akan menjadi bencana mematikan bagi daerah pesisir pulau Jawa dan Sumatera (www.geologypage.com)

“Syukurlah tidak ada yang menghuni pulau itu,” imbuh Dr. Heidarzadeh. “Bagaimanapun, bila ada pemukiman penduduk di daerah pesisir dekat gunung api, katakanlah sekitar 5km jauhnya, ketinggian tsunami yang terbentuk sebetulnya dapat mencapai antara 50m hingga 70m ketika menerjang pesisirnya.”

Dalam kasus ini, Dr. Heidarzadeh memberikan contoh kejadian erupsi Krakatau tahun 1883 yang membentuk tsunami dan menerjang daratan dengan ketinggian maksimal 42m. Gelombang ganas ini membawa kematian pada 36.000 jiwa. Pada masa itu daerah pesisir belum padat berpenghuni.

Penelitian terbaru ini sangat penting bagi penduduk di daerah pesisir yang tinggal berdampingan dengan gunung api di seluruh di dunia, kata Dr. Heidarzadeh, karena ini merupakan penelitian pionir yang menunjukkan bahwa sebuah gelombang raksasa dapat terbentuk pada saat Anak Krakatau erupsi di tahun 2018.

Analisis baru yang dipublikasikan dalam jurnal Ocean Engineering, menggunakan data ketinggian muka air laut dari lima lokasi yang dekat dengan Anak Krakatau untuk memvalidasi pemodelan komputer yang mensimulasikan pergerakan tsunami dari mulai runtuhnya gunung api hingga terjadinya longsor.

“Pengukuran dan pengumpulan data dilakukan oleh peralatan yang dioperasikan oleh pemerintah Indonesia.” Kata Dr. Heidarzadeh.

“Kami menggunakan data-data aktual itu untuk memastikan simulasi yang kami buat sesuai dengan kenyataan yang terjadi. Hal ini teramat penting untuk memvalidasi simulasi komputer dengan data yang aktual.”

Indonesia, salah satu wilayah yang paling rentan terhadap bencana gempa dan tsunami di muka Bumi, dihantam oleh dua gelombang mematikan di tahun 2018. Satunya dipicu oleh Gunung Anak Krakatau, dan satunya lagi akibat longsor di lepas pantai Sulawesi yang memakan korban lebih dari 2000 jiwa.

Dr. Heidarzadeh saat ini akan bekerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk memetakan lantai samudera Indonesia bagian timur dan mengembangkan skema ketahanan tsunami yang baru, sebuah proyek dengan dana sebesar £500,000 dari The Royal Society.

Diterjemahkan dan disadur dari artikel berjudul Tsunami Unleashed by Anak Krakatoa Eruption was At Least 100m High dalam www.geologypage.com

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close