Bencana GeologiTektonika

Kisah Negeri Bangladesh dengan Air Tanahnya yang Beracun

Masyarakat negeri ini telah hidup selama bergenerasi dengan mengkonsumsi sumber air dari tanah yang mengandung racun alami yang mematikan

Lebih dari 70% kandungan air dalam tubuh manusia, sehingga air menjadi kebutuhan mutlak bagi manusia untuk tetap hidup. Tidak hanya manusia, namun seluruh makhluk hidup membutuhkannya. Kabar tentang kelangkaan air, terlebih di Indonesia belakangan ini ramai diberitakan oleh berbagai media. Kondisi kemarau berkepanjangan dan pemanfaatan air yang tidak sustainable membawa masyarakat pada kesusahan. Seperti pemandangan sehari-hari warga Gunungkidul, Yogyakarta yang mendambakan air untuk kehidupan di tengah musim kering ini, begitu pula dengan masyarakat lain di seluruh tanah air.

Lain belalang, lain ladang. Masyarakat Bangladesh tidak hanya menjumpai kekeringan tahunan sebagai permasalahan, namun juga air tanah yang beracun. Negara yang beberapa tahun ini dikenal karena berkaitan dengan masalah Rohingnya, memiliki sumber air tanah yang mengandung arsenik dalam jumlah besar secara alami, seperti yang dilansir dalam BBC News (03/09/19). Kontaminasi toksik ini tidak hanya terisolir pada satu lokasi saja, namun terjadi dalam lingkup wilayah yang sangat luas. “Kandungan air tanah dengan konsentrasi arsenik yang tinggi di negara berpenduduk padat, sangat memprihatinkan. Dan di Bangladesh inilah kondisi yang paling buruk dijumpai”, ungkap Dana Johnston dari UNICEF.

peta penyebaran zona air tanah yang diduga mengandung kadar arsenik
Warna merah tua menunjukkan daerah di Bangladesh yang memiliki air tanah dengan kadar arsenik yang tinggi (Sumber: https://www.facebook.com/bbcnews/videos)

Peristiwa yang disebut sebagai “keracunan masal terbesar sepanjang sejarah ini” diawali pada tahun 1970an, ketika pemerintah lokal dan beberapa LSM mengadakan pembuatan sumur pompa untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat. Tidak diduga, pemboran sumur-sumur itu mencapai air tanah yang mengandung tingkat arsenik yang tinggi. Masyarakat mulai saat itu mengkonsumsi air dari sumur tanpa menduga adanya bahaya yang menunggu. Kenyataan adanya kontaminasi mulai terungkap ketika banyak masyarakat menderita beragam gangguan kulit hingga kanker. Penyakit akibat arsenik semakin meluas, namun penanggulangan menemui jalan buntu: air pada sumber mana yang menyebabkan masalah ini?

Secercah harapan untuk memperbaiki keadaan mulai muncul melalui para peneliti dan ahli lingkungan yang menemukan teknologi baru yang dianggap akurat dalam mengidentifikasi jumlah kontaminan. Kunci dari alat ini adalah pada enzim pada kepingan penguji sampel air. Pada dasarnya, enzim yang sangat peka ini akan bereaksi terhadap kandungan arsenik pada sampel air dengan menghasilkan listrik. Semakin tinggi arus listrik yang terdeteksi, berarti semakin tinggi konsentrasi arseniknya. Alat ini sekali diterapkan pada sampel air dari sebuah sumur, hasil analisis menunjukkan terdapat kandungan arsenik sebesar 439 ppb (bagian per semilyar). Nilai ini sangat tinggi bila dibandingkan dengan batas maksimal arsenik yang diperbolehkan, yakni hanya 10 ppb (menurut WHO).

https://img.mp.ucweb.com/wemedia/img/buz/wm/8d72434dddd893a1e51df2d1e7381a9a.jpg
Test kit ini adalah salah satu teknologi baru yang dikembangkan untuk mendeteksi kadar arsenik dalam air (Sumber: https://www.facebook.com/bbcnews/videos)

Apa langkah antisipasi agar terhindar dari bahaya kontaminan itu? Salah satu cara yang sangat dianjurkan adalah penggalian sumur yang lebih dalam lagi. Penggalian ini dilakukan dengan menembus lapisan akuifer (air tanah) dengan arsenik hingga diperoleh lapisan akuifer yang lebih bersih, yang umumnya berada pada kedalaman lebih dari 200m. Solusi terhadap racun arsenik yang telah menyebabkan kematian sebanyak 40.000 jiwa setiap tahunnya ini diharapkan dapat memberikan kesempatan bagi generasi baru di Banglades untuk memperoleh hidup yang lebih sehat dan baik.

Kesadaran kita, termasuk masyarakat Indonesia terhadap kualitas kebutuhan dasar kehidupan tidak jarang amat rendah, salah satunya pada kualitas air yang digunakan sehari-hari. Maka dari itu, secara pro aktif kita dapat meminta dinas kesehatan atau badan terkait lainnya untuk mengobservasi sumber air yang konsumsi maupun hal-hal lain yang memengaruhi kesehatan kita dan keluarga.

Disadur dari video berjudul People Fixing The World: Detecting a Hidden Poison dalam www.youtube.com/user/bbcnews

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close