PaleontologiSedimentologi

Palinologi: Ilmu yang Mempelajari Tentang Palinomorf

a. Definisi palinologi

Palinologi adalah ilmu yang mempelajari tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan palinomorf. Palinomorf yang secara umum dipelajari adalah spora dan polen tumbuhan serta beberapa bentuk palinomorf yang lain seperti Foraminifera Test Lining (FTL), Dinoflagellates, Acritarch, dsb. Objek palinomorf yang dipelajari baik yang masih hidup (Actuopalynology) ataupun sudah menjadi fosil (Paleopalynology). Palinomorf sendiri merupakan suatu bentuk alami berukuran mikroskopis, berdinding organik, dan dapat diamati setelah dilakukan proses preparasi dalam konsep palinologi. 


Contoh-contoh palinomorf yang ditemukan dalam batulempung moluska pada formasi Kaligetas, Sukorejo, Kendal, Jateng, dengan pembesaran 400X. (a) polen Nypa fruticans, (b) polen Pandaniidites sp, (c) polen F. meridionalis dan (d) spora P. retigosus (sumber: koleksi pribadi)
Palinomorf secara umum mencakup tiga sub kelompok besar yaitu sporomorf (polen, spora dan spora jamur); zoomorf (Foraminifera Test Lining, Chitinozoa dan Scelodont) serta fitoplankton (Dinocysts, Meroplankton, Acritarch,  Rhodofita, Sianobakteria). Polen atau serbuk sari merupakan bagian bunga berupa kantung yang berisi gametofit jantan pada tumbuhan berbunga Anthophyta, baik Gymnospermaemaupun Angiosperma. Sedang spora biasanya dihasilkan tumbuhan non vaskuler seperti alga, jamur, lumut serta tumbuhan vaskuler tingkat rendah lain yaitu tumbuhan lumut (Bryophyta), paku (Pteridophyta) dan sebagian Thallophyta.

Sel induk mikrospora membelah melalui pembelahan meiosis menjadi empat sel haploid yang disebut mikrospora atau sering disebut sebagai butir polen (serbuk sari) dan spora. Polen dan spora berasal dari tumbuhan atau flora yang tumbuh dan membentuk vegetasi pada suatu habitat atau lingkungan tertentu sehingga dapat digunakan untuk merekonstruksi flora dan vegetasi yang berada di sekelilingnya. Bukti palinologi ini merupakan representasi dari tumbuhan yang dapat menggambarkan bagaimana pola vegetasi beserta kondisi lingkungan  habitatnya. Analisis fosil polen dan spora yang terendapkan pada suatu sedimen dapat mengungkap latar belakang perubahan vegetasi dan lingkungan suatu daerah pada satu periode waktu tertentu pada masa lampau.

Selain kelompok palinomorf yang umum digunakan dalam analisis palinologi, juga terdapat palinomorf lain yang dikelompokkan sebagai palinomorf non polen-spora atau Non Pollen Palynomorphs (NPPs). Non Pollen Palynomorphs atau NPPs didefinisikan sebagai suatu objek mikroskopis organik dengan ukuran berkisar 10-250µm. Karakter umum dari NPPsadalah morfologi tubuh yang resisten terhadap proses pembusukan sehingga membutuhkan proses preparasi standar dalam laboratorium palinologi (http://nonpollenpalynomorphs.tsu.ru).

Contoh palinomorf non polen-spora (NPPs) yang ditemukan, pembesaran 400X. (a) Diatom dan (b) spora jamur (sumber: koleksi pribadi)

Palinologi memiliki banyak manfaat yang dapat diaplikasikan ke dalam berbagai disiplin ilmu, seperti dalam geologi: geokronologi, biostratigrafi, sedimentologi dan stratigrafi. Ekologi: perubahan iklim, evolusi tumbuhan, paleoekologi dan paleoklimatologi. Bidang arkeologi hingga forensik. Fosil polen dan spora menyimpan berbagai informasi unik, dengan beragam konsep analisis Palinologi dapat diterapkan secara luas, karena:

  1. Memiliki jumlah yang melimpah dalam suatu batuan sedimen, dan umumnya terawetkan dengan baik,
  2. hanya diperlukan jumlah sampel batuan/substrat yang sedikit untuk studi palinologi, karena ukuran palinomorf yang mikroskopis dan keberadaannya yang melimpah,
  3. resisten terhadap kerusakan baik oleh asam, kadar garam, suhu dan tekanan lain sehingga dapat tersimpan pada berbagai keadaan,
  4. dapat diidentifikasi dengan bantuan mikroskop sehingga secara taksonomi dapat diketahui taksa penghasilnya,
  5. polen dan spora berasal dari kumpulan vegetasi yang membentuk suatu ekosistem secara spesifik. Sehingga fosil polen dan spora dapat digunakan untuk memperoleh informasi mengenai paleoekologi baik secara lokal maupun regional.



Bersambung ke Palinologi: Ilmu yang mempelajari Tentang Palinomorf (bag. 2)

Referensi:

Haseldonckx,P. 1974. Palynologycal Interpretation of Palaeoenvironments in South East Asia. Sains Malaysiana 3.
Kapp,R. O. 1969. How To Know Pollen and Spores. Dubuque, Iowa, USA: WMc. Brown Company Publisher.
Rahardjo,A. T., Polhaupessy T. T., Wiyono S., Nugrahaningsih H., Lelono E. B. 1994. Zonasi Polen Tersier Pulau Jawa. Makalah Ikatan Ahli Geologi Indonesia, Pertemuan Ilmiah Tahunan Ke-23; Des 1994. Bandung: IAGI.
Suedy, Sri W.A. 2012. Paleorekonstruksi Vegetasi dan Lingkungan Menggunakan Fosil Polen dan Spora Pada Formasi Tapak Cekungan Banyumas Kala Plio-Plistosen. Thesis. Bogor: Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Kurniadi, Deddy. 2015. Palynologist: Untuk Analisis Palinologi yang Lebih Baik. https://palinologyst.com
Society for the Promotion of Palynological Research in Austria (AutPal). PalDat-Palynological Database: An Online Publication On Recent Pollen. https://www.paldat.org. 
Van Geel, Bas dan Schlutz, Frank. Non-Pollen Palynomorphs: “Extra Fossils” in Pollen Slides. http://nonpollenpalynomorphs.tsu.ru

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Close
Back to top button
Close